Bersyukur Dengan Pencapaian Di 2018. Perlukah Iri Dengan Pencapaian Orang Lain?

Nggak terasa ya, ternyata ujung 2018 sudah di depan mata aja. Dan tentu menuju 2019 hanya tinggal menghitung hari. Berbicara tentang pergantian tahun pasti akan membahas tentang pencapaian dan resolusi. Bener kan?  

Apa sih yang sudah kita peroleh di tahun dan apa sih cita-cita atau resolusi yang akan kita aminkan di 2019?

Pencapaian dan resolusi memang nampaknya bukan hanya sebuah kata basa basi belaka. Meskipun terlihat ‘drama’ namun sebenarnya 2 kata ini sangat penting untuk kita pikirkan dan renungkan dalam kehidupan kita.




Tanpa kita sadari, resolusi dan pencapaian adalah nyawa yang memberikan kita semangat setiap harinya dalam menjalani aktivitas kita.

Tercapai atau tidaknya sebuah resolusi tentu tergantung bagaimana kita berusaha untuk mewujudkan nya. Tanpa menyingkirkan faktor dan campur tangan Tuhan juga tentu di dalamnya. Karena semaksimal apapaun kita berusaha kalau belum diizinkan untuk mencapai sesuatu oleh Tuhan maka mungkin kita belum bisa mendapatkannya.

Namun sebagai manusia tentu kita tak boleh lupa bahwa tugas kita adalah untuk tetap berusaha, ikhtiar dan tawakal. Bener nggak?




Setiap Orang Punya Pencapaian Masing-Masing. Perlukah Iri Dengan Pencapaian Orang Lain?
mediabelajarsejarah.files.wordpress.com

Pencapaian Saya Di Tahun 2018

1. Lebih Banyak Bersyukur Atas Apapun

Dulu, sebelum setua dan sedewasa sekarang (sambil ngakak ngetiknya) ngerasa banget masih kurang bersyukur atas apapun. Banyak ngeluhnya, banyak ngedumel nya, banyak marah-marahnya. Gak punya ini, ada kurang ini pasti di keluhin.

Sekarang, berangkat kerja, pulang kerja, pas lagi di jalan terus lihat orang-orang sekitar kerasa banget banyak banget hal yang bisa disyukuri.

Melihat kehidupan orang lain yang segitu kerasnya jadi keinget masa-masa hidup susah dan perjuangan bapak ibu buat ngidupin ketiga anaknya. Keras banget. Ngerasa saya bukan apa apa kalau keinget usaha bapak ibu dengan keringat dan peluh yang dihadapinya setiap hari. (tuh kan jadi mewek)

Sekarang, masya alloh tenang nya bisa telponan tiap hari sama bapak ibu pas mereka lagi santai-santai dirumah. Meski bapak masih belum pulih dari ‘stroke’nya. Tapi masih banyak hal yang bisa kami syukuri lebih. KEBAHAGIAAN BATIN.

2. Bertahan Di Kantor Baru Dan Pindah Jobdesk + Meja Baru (After 1 Year)

April 2017 usai menerima ijazah S1 dan menjalani beberapa interview di berbagai tempat, akhirnya saya resmi pindah kerja dan diterima di salah satu perusahaan manufaktur di Surabaya. Alhamdulillah mendapat atasan yang sangat baik dan bijaksana. Serta rekan-rekan kerja yang bersahabat (ya, beberapa sih) haha.

1 tahun bekerja di tempat tersebut, alhamdulillah sang atasan yang baik hati tersebut memberi kesempatan saya untuk menerima job desk yang lebih baik dari sebelumnya. Pindah meja tentunya. Hehe, seperti apa yang saya cita dan rencanakan saat menjalani kursus brevet dulu, akhirnya sekarang bisa menduduki kursi junior tax accounting. Masih banyak belajar sih dari senior, jadi makin semangat kerjanya.

3. Bisa Beli “Mobil Hatchback”

Tahun lalu, mbak / kakak perempuan saya mendapat promosi jabatan dan dibawai mobil kemudian akhirnya bisa menyusun anggaran untuk beli mobil sendiri. Beberapa waktu kemudian saat kami di dalam mobil berdua (saat masih pakai mobil kantor mbak), mbak pernah nyeletuk “moga moga lebaran tahun depan udah bisa bawa mobil masing-masing ke rumah” dan saya pun mengamini.



Memang perkataan adalah doa ya, baru ngeh dan sadar, tahun kemarin saya dari Surabaya dan mbak dari Jakarta bisa membawa pulang mobil masing-masing. Bukan untuk disombongkan (seperti pemikiran dan respon kaum yang suka bernegatif ria) namun sebagai bentuk pencapaian sekian tahun kami berjuang di jalur kami masing-masing. 2 anak gadis dari bapak dan ibu asal desa kecil di Kebumen. Yang dahulu masa kecil nya dan keluarga kecilnya sering kali di remehkan karena ekonoi keluarga yang jauh dari kata cukup.

Bukan bentuk pembuktian, hanya bentuk kesuksesan ibu dan bapak kami merestui anaknya dalam mengais rejeki di kota.

4. Dapat Side Income Dari Menjadi Guru Les Dan Google Adsense

Alhamdulillah 2018 bisa ngelesin anak sekolah Matematika lagi. Seminggu 2 - 3 kali pertemuan. Lumayan buat tambah-tambah biaya kos, hihi. maklum anak rantau haha.

Alhamdulillah juga dari nge blog udah pernah gajian satu kali, januari atau februari nanti semoga cair lagi masuk rekening. hihi

5. Langgeng-Langgeng Sama Doi

Alhamdulillah 2017 ditemukan dengan satu lelaki berhati lembut dan baik yang dengan ikhlas berbagi susah dan senang. Yap, sampai hari ini meski banyak masalah masih bisa diatasi bersama-sama. Semoga seterusnya, tentu semoga bisa menuju ke hubungan yang halal suatu saat nanti. Bantu mengamini ya temen-temen ^^ #shy


Setiap Orang Punya Pencapaiannya Masing-Masing. Setiap Orang Punya Standar Kesuksesannya Masing-Masing. Perlukah Iri Dengan Pencapaian Orang Lain


Setiap Orang Punya Pencapaian Masing-Masing. Perlukah Iri Dengan Pencapaian Orang Lain?
media.istockphoto.com

Saya, kalian atau bahkan banyak orang tentu terkadang merasa iri atau merasa rendah diri ketika melihat kesuksesan atau pencapaian orang lain. Wajar, manusiawi, yap itu menurut saya.

Namun, semakin tua dan dewasa saya pun berpikir untuk lebih legowo dan fokus kepada apa yang ingin saya dapatkan tanpa melihat atau memandang sebelah mata apa yang sudah didapatkan oleh orang lain.

Alih-alih merasa iri atau tak senang hati melihat pencapaian orang lain yang lebih dari saya, saya malah memilih untuk lebih memfokuskan diri sendiri pada apa yang telah saya dapatkan. Setidaknya atas apa yang membuat saya bahagia dan bangga.

Ayolah guys, melihat atau mengeluh tentang diri sendiri menurut saya lebih banyak menimbulkan dampak yang negatif bagi diri sendiri.

Masih Iri Melihat Pencapaian Orang Lain?

Setiap Orang Punya Pencapaian Masing-Masing. Perlukah Iri Dengan Pencapaian Orang Lain?
www.freepik.com

Sebenarnya semua tergantung bagaimana karakter kita terbentuk dan berusaha dibentuk. Jadi begini, saat pikiran kita positif kita akan melihat pencapaian orang lain sebagai sebuah motivasi. Benar kan?

Namun saat pikiran kita terlalu negatif maka kita akan melihat kesuksesan orang sebagai bahan keluhan kemudian iri hati itu pun muncul.

Coba dipikir-pikir lagi bagaimana pikiran kalian membawa kalian dalam memandang kesuksesan dan pencapaian orang lain?

Jadi apa masih perlu merasa iri dengan pencapaian orang lain?
Jadi apa masih tetap ingin menikmati pikiran negatif dalam diri?
Siapa yang memilih berusaha untuk selalu berpikir positif dan melihat sesuatu dari sisi baiknya, misalnya menjadikan pencapaian orang lain sebagai motivasi or something else gitu?




Thankyou

RINI NOVITA  SARI



@rinie_noe
rinienoe46@gmail.com
   

8 komentar:

  1. Alhamdulillah rezekinya luar biasa. Selamat mba

    BalasHapus
  2. Bicara soal iri, saya juga terkadang iri sih sama Jokowi ��, pingin Terkenal gitu. Iri sih boleh ya. Asal gak nglakuin tindakan yang merugikan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk.. berat mas e irinya sama pak de jokowii... hahaha

      Hapus
  3. wah hebat ya, semoga sukses selalu

    BalasHapus
  4. Salam kenal mbak. jadi terharu baca ceritanya. semoga kita sama2 sukses di 2019. salam semangat mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbk say... sukses juga buat mbak nya :)))

      Hapus
  5. semoga makin sukses di 2019 mbak..

    BalasHapus