Rabu, 13 Desember 2017


Topik ini sebenarnya terlalu panas untuk dibahas. Saat topik ini diangkat beberapa pihak merasa bahwa topik ini memang layak untuk di perdebatkan. Berdebat?? Kenapa berdebat? Terkesan harus menang salah satukah? Padahal kalau mau sama-sama sadar mah semua masalah kan bisa dilihat dari dua sisi atau dari dua perspektif yang berbeda. Yang baik menurut kita belum tentu baik buat orang lain, pun begitu sebaliknya.

Membahas masalah “lebih baik mana, wanita bekerja atau wanita yang jadi ibu rumah tangga saja” sebenernya tidak perlu mencapai kata mufakat. Menurut saya tidak bisa disimpulkan, hanya masing-masing berhak beropini dengan alasan-alasannya masing masing. Toh hidup orang ya orang itu sendiri yang jalanin. Baik buruk atau resiko kan emang selalu melekat pada semua keputusan yang diambil.

So, dont judge too early.
Hal yang paling sering saya dengar dari wanita yang berkerja yang mengomentari wanita yang dirumah saja adalah “duh, eman ilmunya, duh gag berkembang jadi ibu rumah tangga aja”. Kemudian hal yang paling sering saya dengar dari wanita rumah tangga yang mengomentari wanita karir adalah “duh, kasian anaknya ditelantarin, tega nyuruh orang tua yang udah sepuh ngrawat anaknya, duh kasian anaknya dari kecil dikasihkan ke babysitter” hmmmmm julid.... -_______- padahal sebenarnya keduanya punya niat yang sama-sama baik untuk keluarganya.



Wanita karir lebih memilih keputusannya demikian untuk kehidupan anaknya nanti yang lebih baik, bisa membiayai sekolah dengan baik, bahkan bisa memberikan jaminan misal asuransi untuk anaknya kelak, bentuk kerja sama yang baik secara finansial dengan suami. Sedangkan yang memilih dirumah saja juga punya niat baik agar pendidikan moral anak mungkin bisa lebih tertanam sejak dini dan berasal dari didikan Ibu kandungnya sendiri. Nah kan., semua punya niat baik kok. Ini hanya gambaran dari orang-orang yang sering membuat perdebatan topik ini.

BACA JUGA Pentingnya Membuat Anggaran dan Mencatat Laporan Keuangan Pribadi

Terkesan arogan rasanya saat ada wanita yang bicara bahwa menjadi wanita pekerja lebih baik ketimbang wanita yang hanya dirumah saja, pun sebaliknya. Jadi disini saya tidak akan MEMBANDINGKAN keduanya. Please, girls. Semua wanita kan istimewa.

Trus kenapa saya nulis ini? Nah balik ke paragraf satu, saya hanya ingin beropini dan menyampaikan atau bercerita tentang cara pandang saya SEKARANG yang mengatakan bahwa ada banyak alasan kenapa wanita lebih memilih untuk mempunyai karirnya sendiri, bahkan sampai saat sudah berkeluarga nanti. Sekarang? 

Yup karena hal ini kondisional sebenarnya. Saya berbicara ini pada kondisi saya sekarang, entah nantinya akan ada kondisi yang menuntut saya untuk berfikir bahwa saya harus dirumah saja ya beda lagi ceritanya. Dan ya, kondisional karena sekeras apapun saya ingin tetap bekerja nanti saat sudah menikah ,tetap saja saat kondisi benar-benar menuntut saya dirumah ya apa boleh buat.

Dan yup, kondisional karena saya berfikir dua tipe wanita yang beda pandangan tentang ini juga pasti punya kondisi yang berbeda dalam hidupnya.

Yuk kita bahas lebih dalam. Berikut beberapa alasan yang membuat wanita memilih untuk tetap bekerja.
1. Membantu Suami dan Perekonomian Keluarga (FINANCIAL)
Yup, keluarga kan tentang kerja sama. Dan kebutuhan setelah berkeluarga pun pasti akan berlipat ketimbang jaman masih single yaa. Beruntung bagi yang suaminya sudah bisa memenuhi semua kebutuhan istri dan anaknya kelak. Bisa disini maksud saya adalah berlebih, punya dana yang lebih sehingga tanpa istri kerjapun uangnya masih berlebih-lebih hehe. Namun bagi yang suaminya masih mempunyai pemasukan yang serba pas bahkan kurang tentu akan membantu sekali saat istri ikut serta menjadi sumber pemasukan keluarga.

Namun jangan salah, jaman sekarang ini tak melulu wanita yang berkarir adalah karena suaminya mempunyai pemasukan yang ‘pas-pasan’ namun lebih dari itu. Yang suaminya sudah cukup uang pun banyak yang tetap memilih bekerja. Kenapa? Karena ada hal-hal yang secara financial memang harus “dijagakno” kalau dalam bahasa jawa. Maksudnya adalah harus ada uang jaga-jaga untuk hal lain. Jadi kata ‘cukup’ itu relatif. Kalau bias dapat lebih kenapa enggak. Toh nantinya digunakan untuk hal-hal yang baik. Misalnya untuk investasi jangka pendek dan panjang, cicil atau tunai segala macam misalnya rumah, mobil atau tanah. Saving untuk biaya sekolah anak di masa depan atau asuransi untuk anak.

Intinya membantu finansial untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Ya kali orang modern mau hidupnya flat-flat aja gag pengen ada kemajuan. Nah akan lebih baik mungkin kalau dalam hal ini memang suami dan istri sama-sama bekerja sama mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depannya kelak. Kalau semua hanya dibebankan pada suami rasanya akan kewalahan sekali fisik dan pikirannya.
2. Lebih Bijak Mengontrol Keuangan, Karena Sadar Betapa Sulitnya Mencari Uang
Wanita katanya kan manajer keuangan dalam rumah tangga ya. Nah dengan kita bekerja dengan tenaga, waktu dan pikiran sendiri maka akan menimbulkan kesadaran bahwa untuk memperoleh uang, kita (wanita) harus menukarnya dengan susah payah. Alhasil kita akan lebih menghargai apa yang sudah didapatkan. Akan ada perhitungan yang jelas uang nanti untuk apa saja. Semua sudah dalam hitungan dan budget yang disusun, hal ini agar keuangan kita dan suami akan terkontrol, semua kebutuhan terpenuhi dan semua pengeluaran prioritas tercapai.

3. Membantu Orang Tua
Percayalah bahwa menjadi seperti apa nanti kita wajib membantu orang tua. Menikah bukan berarti membuat tanggung jawab kita terhadap orang tua terputus. Dengan segala kebutuhan yag ada nanti kita harus tetap menyisihkan beberapa rupiah tentunya untuk kedua orang tua kita. Atau kita atur budget khusus untuk keadaan keadaan tertentu yang diluar rencana. Atau sekedar ingin meberi atau membelikan orang tua sesuatu, kan gag mungkin kita nggak ingin orang tua kita tersenyum dengan pemberiam kita. Dan nggak akan terlalu berat rasanya kalau biaya biaya ini dibelanjakan dari uang hasil keringat sendiri. Syukur-syukur kalau suami bisa menopang semua keperluan kita termasuk saat saat kita ingin memberikan sesuatu atau membantu orang tua. Kalau tidak? Kan kita sendiri yang sedih gag bisa bantu orang tua. So salah satu jalannya ya kita sebagai wanita mencari pemasukan sendiri untuk hal hal seperti ini.

Jadi alangkah baiknya jika nanti menikah misal suami tidak mengijinkan bekerja, coba pastikan dulu apakah suami bersedia menyisihkan atau memberikan beberapa rupiah saat nanti kita ingin memberikan kepada orang tua.

4. Mengaktualisasikan Diri, Pembuktian Diri
Ini alasan yang cukup kuat menurut saya. Setiap orang dibekali dengan bakat dan kemampuannya masing masing. Tak terkecuali para wanita. Banyak wanita yang punya kemampuan dan skill yang mumpuni untuk berkerja. Mengaplikasikan ilmu dan pengalamannya dalam bidangnya masing masing. Potensi-potensin seperti ini kadang terasa 'eman' untuk disia-siakan dan tidak dikembangkan. 

Wanita yang berfikir seperti ini akan lebih memilih untuk menyalurkan potensinya dengan bekerja. Syukur-syukur ilmu dan skill nya bisa bermanfaat untuk orang lain, syukur syukur dari potensi dan skill itu bisa menghasilkan rupiah. Alhamdulillah.

5. Berjaga-Jaga Dengan Segala Kondisi Terburuk (Tetap Bisa Mandiri)
Naudzubillah, tidak ada satupun wanita yang mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupannya. Namun kita sebagai manusia sudah diajarkan untuk berikhtiar dan bertawakal atas apapun yang menimpa, termasuk untuk kondisi kondisi buruk yang terjadi. Misalkan dalam keadaan tertentu seperti suami atau orang tua (intinya tempat bersandar dalam hal apapun) dipanggil Tuhan lebih dulu, ternyata juga tak ada asuransi dan lain-lain. Kemudian jika berada dikondisi misal suami dipecat atau ada PHK masal. Apa yang harus dilakukan wanita dengan kondisi demikian? Berpasrah diam? Ga mungkin kan. Logika harus tetap berjalan. 

Untuk itu beberapa wanita berfikir bahwa hanya bersandar pada suami bukanlah satu hal yang baik. Banyak wanita modern yang sudah berubah sudut pandang bahwa wanita haruslah tetap bisa berdiri tegak tanpa siapapun disampingnya. Tetap bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.

6. Tetap Bersosialisasi
Bekerja adalah tentang kerja sama sebuah tim atau lebih dalam satu lingkungan kerja. Jadi bisa dipastikan akan ada interaksi dan hubungan secara personal dan kelompok. Maka dari itu bisa dibilang tempat kerja salah satu tempat untuk bersosialisasi. Gag akan disebut makhluk sosial jika manusia tak bersosialisasi. 

Bertemunya seorang wanita dengan individu lain akan memperluas cara pandang dan pikiran akan satu hal atau lebih, karena diskusi dan percakapan hampir terjadi setiap hari. Tidak lupa, membangun relasi adalah satu step yang baik untuk masa sekarang dan masa depan. Melihat dan mendengar cerita dari relasi atau teman kerja satu tim juga tentu akan sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi karena hal ini bisa menjadi topik yang baik untuk diceritakan atau didiskusikan dan dibahas dengan suami di rumah. Asik bukan. :)

7. Bekerja Adalah Kegiatan Mengisi Waktu Yang Positif
Banyak yang bilang kalau wanita yang memilih bekerja diluar rumah karena manghindari kegiatan-kegiatan yang kurang berfaedah misalnya jadi tukang gosip di rumah dengan ibu-ibu lain. Hhaa.. ini lucu tapi masuk akal sih. Apalagi kalau misal punya anak tapi si anak udah mulai sekolah. Akan ada watu luang yang bisa jadi digunakan untuk hal begituan. Ataua misalnya juga untuk sekedar arisan atau kongkow semacamnya. LOL (jangan dimarahin plisss, jangan tersinggung plissss. Hihi).


8. Bekerja Sebagai Bentuk Penghargaan Kepada Diri Sendiri  (Memuaskan Diri Sendiri)
Namanya wanita, lelah bekerja pastilah punya keinginan untuk mendapatkan kepuasan dari hasil kerjanya. Sudah bukan hal aneh wanita suka belanja, suka merawat diri, ke salon, treatment dan hal hal lainnya. Nah dengan mempunyai penghasilan sendiri, setidaknya istri sudah meringankan beban suami. Tak melulu harus minta ke suami untuk hal hal demikian. Gimana? Happy kan pasti si suami punya istri yang pengertian begini. Eaakk.. 

---------------------------

Well, apapun keputusan dan pilihannya, menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau memilih bekerja diluar rumah akan sama mulianya selama disertai dengan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai wanita atau istri.

Menjadi ibu rumah tangga dengan seabrek aktivitasnya adalah hal yang sungguh-sungguh mulia. Tetapi wanita yang bekerja diluar rumah dan bisa mengatasi pekerjaan dan tanggungjawabnya dirumah adalah wanita yang luar biasa.  

Jadi, keputusan tetap ditangan Anda. Hehe. Semoga ketujuh alasan yang saya tulis diatas bisa membantu para wanita yang sedang mempertimbangan untuk bekerja atau tetap dirumah saja ketika sudah menikah nanti. Yang terpenting semua atas diskusi dan ijin pasangan yaa,.. asal niat baik insyaalloh berkah. Amin

Pasti akan selalu yang dikorbankan dari semua keputusan yang kita ambil. Kalau kata ilmu ekonomi mah “high risk high return, low risk low return”. memang harus ada yang selalu dibayar untuk suatu hal yang diinginkan (pencapaian). Resiko besar kemungkinan pengembalian besar, pun sebaliknya.

Oh iya tulisan ini juga saya tujukan untuk mengapresiasi semua wanita-wanita diluar sana yang telah sanggup dan sukses menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi wanita karir. Semoga saya bisa menjadi seperti kalian suatu saat nanti. Amin
Apalah saya yang berani nulis topik ini padahal belum menikah. Mohon dimaafkan yaa...

@rinie_noe


30 comments:

  1. Sebenarnya wanita bekerja tidak masalah asal tetap keluarga prioritas utama. Bahkan, ini juga berlaku untuk laki laki menurut saya, karena dalam keluarga tidak hanya figur ibu saja yang dibutuhkan melainkan ayah juga. Yang paling terpenting baik suami dan istri saling mengerti serta mendukung dengan begitu kapal yang bernama rumah tangga tetap berlayar tanpa khawatir tenggelam. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mas nya ciamik sekaliiii.. Bener bener . Dari sisi laki juga sehatusnya gitu. Krna rumah tangga kan tanggung jawab bersma. Yang penting saling diskusi, saling bantu dan saling support yaa..

      Hapus
  2. Kalo saya si lebih suka yang jangan kerja :D hehe
    Biar suami saja yang bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa mas. Asal suami dan istri terutama merasa cukup dengan apa yang dihasilkan suami, ga bakal ada masalah ya mas yaa.. Hehe

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Alasan alasan di atas lah yang sebenarnya juga membuat saya memilih untuk tetap bekerja, walaupun bukan jadi karyawan kantoran lagi, melainkan freelancer. Bagi saya, itu jalan tengah yang terbaik agar saya tetap bisa mengaktualisasikan diri, tetapi tetap bisa menjadi ibu yang sering berada di rumah, mengikuti amanah suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bener banget mbak. Daripada berdebat kalau misal kehendak wanita dan suami berbeda. Itu bisa jadi solusi. Masih bisa dirumah masih bisaa full urus keuarga yaa.. Masih tetap bisa mengaktualisasikan diri. Jadi masih byk manfaatnya.. Masih bisa menghaslkan dan bantu suami. Alhamdulillah mbak. Keren bgt bisa gitu.

      Hapus
  5. sebaga ibu bekerja yg sering dijulidin emang rasanya lelah padahal mereka yg julid itu ga tau alasan2 yg saya pilih untuk ttp
    bekera ya sudah akrg sih saya enjoy aja mu dijulidin kek yg ptg keluarga ttp saya urus meski saya bekerja hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat terus mbak nyaaa.. yg penting niat nya baik dan dilakuin dengan baik, for better future ya mbak :))

      Hapus
  6. kalo dalam agama, nilai uang yang di berikan seorang istri untuk keluarganya bernilai sedekah, maka pahala sedekah akan di dapatnya selamanya.,, beda halnya dengan uang yg di berikan suami ke keluarganya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah begitu yaa.. Istimewa sekali berarti buat wanita yang masih mau mencari uang buat keluarga ya. Membantu suami. Meski kewajiban utama tetap ditangan suami. Yang pentung berkah uangnya dan keluarga tetep terjaga..

      Hapus
  7. Wah, istri saya juga wanita karir, bidang kesehatan. Jadi kadang kerja harus shift. Kalau istri lagi dapat shift sore sampai malam, pagi anak sama bundanya (istri), sore anak sama saya. Akhir pekan selalu disempatkan jalan bertiga. Bener-bener quality time bersama keluarga. Thanks for sharing mba ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren mas. Pasti koordinasi suami sama istri baik bgt ini. Kerjasama nya ok demi masa depan anak juga. Istri juha bisa lebih berkembang dgn bekerja diluar.. Yg penting keluarga gag terbengkalai dan bisa saling support ya mas.

      Thanks for reading mas.

      Hapus
  8. walapun saya belum menikah. masi kuliah soalnya, menururut saya nggk apa2 seorang istri bekerja asalakan jangan lupa ngurusin rumah tangganya. Itung2 bantu laki nya kan...

    artikel yang menarik mbak...
    yuk mampir : TauPintar.net

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. Saya juga belum menikah dan berfikiran sama kayak mbak yang penting keluarga terurus dengan baik. :) menjadi realistis jaman sekarang penting..

      Siap mbak. Otw kesana..

      Hapus
  9. Ada yang bilang kalo suami bekerja gaji 50%, tapi kalo istri bekerja, gaji jadi 100%

    BalasHapus
  10. Bekerja memang menjadi pilihan bagi seorang wanita, tapi bukan berarti menjadi wajib, karena memang sifatnya hanya sebagai tambahan pendapatan disamping dari Suami, keren artikelnya mbak,
    Kunjungi juga post saya : Cara Memulai Bisnis Anak Muda Generasi Z

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas gag ada kewajiban. Wajiibnya patuh ke suami. :)

      Wanita pekerja hanya berfikir realistis bahkan berniat kerjasama sama suami secara financial.

      Makasih mas nya.. :)

      Hapus
  11. Artikelnya bagus mbak. Wanita kerja juga punya tujuan-tujuan yang baik, enggak sekedar 'biar ada kegiatan aja' ya kan?

    Kalau dipikir pikir, beban pekerjaan ditumpahkan ke pria seorang sih kasihan juga. Syukur-syukur kalau pekerjaan dijalani dgn oke, kalau lagi keberatan? Kasihan, istri perlu membantu. Dan begitu pula kalau pekerjaan rumah juga dibebani ke istri seorang sih kasihan juga. Masak, anak, bersih kotornya rumah, isi perut keluarga, semua dibebani ke istri. Kasihan juga...

    Menikah itu 2 insan menjadikan satu bukan? Alangkah lebih baiknya bila bisa bekerja sama dalam mengurus kehidupan rumah tangga supaya punya ikatan saling membutuhkan keduanya huehehe.

    Willynana.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget mbak. Menikah kan kerjasama 2 manusia.

      Financial pasti penting dipikirin buat masa depan keluarga. Saya emang belum nikah tapi membayangkan suami mikir keuangan sendiri kok ya kasian. Mau minta macem2 ya gag tega. #kayaknya. Belum lagi kemungkinan kemungkinan terburuk di masa depan. Kalo misal pas suami nti rejekinya lagi diuji ato lagi seret kan kita juga butuh back up yaa..

      Kalo saya sih mikir realistis gtu aja. Hehe.. .
      Dan bener tuh. Jadi nnti suami juga lebih ngerti bisa mbantuin kerjaan rumah juga kan si istri juga udah bantu dari finansial. Balik lagi ke kerjasama :))

      Hapus
  12. Saya salut dengan wanita yang memikirkan karir serta kelaurga. Karena jelas-jelas menjadi multi talent yang oke dibidang kerja dan mengatur rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Memang isu ini paring sering diperdebatkan. Tapi sisi positif wanita karir juga gak kalah banyak ya.. Artikel ini bisa membuka perspective orang tua terhadap calon menantu haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Way bener kata mas. Bisa mengubah pandangan calon mertua yaaa.. Semoga bermanfaat :))

      Hapus
  13. Setuju mba, utamanya poin bahwa wanita juga perlu sarana aktualisasi diri. Istri saya sendiri sih memilih di rumah saja untuk mengurus anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas. Wanita juga perku hal Seperti itu . Semua asal dijalankan dgn tanggung jawab mau di rumah aja ato kerja diluar insyalloh barokah kan. . :)

      Hapus
  14. Masuk akal. Meski kalau aku pengennya perempuan ga usah kerja yang kantoran. Bikin bisnis atau jadi blogger. Kantoran boleh hanya guru. Eh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas klo secara ekonomi merasa cukup emang mending milih di rumah mas biasanya. Hehe. Trgantyng pribadinya. Yg penting niatan nya baik semua ya kan. .. :)

      Hapus
  15. Kalau saya pengen dua-duanya mabk, jadi ibu rumah tangga tapi juga bisa kerja, semisal jualan online dari rumah, jadi blogger, penulis, atau youtuber he...he...😁
    Ada 8 alasan tapi mbaknya salah nyebut "...ketujuh alasan yang saya sebut di atas..."
    Sekedar mengingatkan doang mbak.
    He..he..😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak. apapun keptusan seorang ibu pasti yang terbaik untuk keluarga dan anaknya..


      eh iya ada yg belum diganti. hihi makasih mbak nya. wah mbak baca detail sekali,,, terharu aku mbak :)

      Hapus

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes